• Tentang Kami
  • Redaksi
METROBRATA UTAMA
Advertisement
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
    • Home – Layout 6
No Result
View All Result
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
    • Home – Layout 6
No Result
View All Result
METROBRATA UTAMA
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum
  • Kriminal
  • Polri
  • TNI
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
Home Teknologi

Agen Intelijen Wanti-wanti Serangan Siber Terparah dalam Waktu Dekat

by Metrobrata Utama
Juli 2, 2026
in Cyber Crime, Teknologi
Agen Intelijen Wanti-wanti Serangan Siber Terparah dalam Waktu Dekat

Ilustrasi

0
SHARES
3
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Telegram

METROBRATA UTAMA (Jakarta) – Badan-badan intelijen siber dari aliansi Five Eyes memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi mendongkrak serangan siber terhadap pemerintah, infrastruktur kritis, dan korporasi besar dalam hitungan bulan ke depan.

Five Eyes merupakan aliansi yang beranggotakan badan intelijen dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Dalam sebuah pernyataan bersama pada Senin (22/6), para pemimpin badan siber dari kelima negara itu menyebut model AI generasi terbaru (frontier AI) berkembang begitu cepat sehingga asumsi lama soal ancaman digital bisa segera usang.

“Model AI generasi terbaru diperkirakan akan melampaui ekspektasi industri saat ini, secara fundamental mengubah kapabilitas ofensif maupun defensif di ranah siber,” tulis para pejabat intelijen tersebut, dalam pernyataan bersama.

Mereka menegaskan ancaman ini bukan soal tahun, melainkan hitungan bulan.

Peringatan itu muncul di te lpngah meningkatnya kekhawatiran soal risiko keamanan AI dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintahan Trump sebelumnya melarang warga negara asing mengakses model Claude Fable 5 dan Mythos 5 buatan Anthropic, dengan alasan model tersebut dianggap “terlalu kuat” dari sisi kapabilitas.

Merespons kontrol ekspor tersebut, Anthropic menonaktifkan seluruh akses ke model Mythos dan Fable, yang menurut perusahaan merupakan satu-satunya cara memastikan kepatuhan terhadap arahan pemerintah federal.

Baca Juga

No Content Available

Kini, kedua model tersebut sudah dirilis kembali untuk untuk pengguna di seluruh dunia usai dievaluasi oleh otoritas AS.

Pada pertengahan Juni lalu, New York Post juga melaporkan bahwa pemerintahan Trump belum akan mengizinkan negara-negara G7 memperoleh kembali akses ke model AI paling canggih milik Anthropic, menyusul larangan yang diberlakukan awal bulan ini atas alasan keamanan nasional.

Pernyataan terbaru Five Eyes soal potensi serangan siber ini mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di kalangan pejabat intelijen negara-negara Barat, bahwa generasi terbaru sistem AI berpotensi menurunkan drastis hambatan bagi peretas, sekaligus mempercepat kecepatan dan kecanggihan serangan siber.

Meski mengakui AI dapat memperkuat pertahanan siber, badan-badan intelijen itu memperingatkan teknologi yang sama juga bisa membantu pelaku kejahatan siber mengidentifikasi celah keamanan, mengotomatisasi serangan, dan mengeksploitasi kelemahan sistem lebih cepat daripada kemampuan organisasi merespons.

“AI bukan lagi pertimbangan masa depan, AI sudah ada di sini sekarang,” demikian pernyataan Five Eyes, dikutip dari New York Post.

Para pejabat itu menyebut teknologi AI mempersempit jeda waktu antara ditemukannya celah keamanan perangkat lunak dan eksploitasi oleh penyerang, sehingga menambah tekanan bagi perusahaan dan lembaga pemerintah yang sudah kesulitan mengejar pembaruan keamanan.

Menurut badan-badan tersebut, risiko siber tak lagi bisa dipandang sebagai persoalan teknologi informasi semata.

“Risiko siber tidak bisa lagi diperlakukan sebagai isu murni teknis. Ini adalah risiko bisnis inti dan tanggung jawab kepemimpinan,” tulis pernyataan itu.

Peringatan tersebut ditujukan tak hanya kepada profesional keamanan siber, tetapi juga jajaran direksi perusahaan. Para pejabat intelijen mendorong eksekutif memahami risiko siber, memberi wewenang lebih besar kepada pemimpin keamanan, rutin menguji sistem pertahanan, dan menjadikan ketahanan siber sebagai bagian sentral strategi bisnis.

“Keberhasilan akan datang dari menjalankan hal-hal dasar dengan benar, bertindak cepat, dan mengintegrasikan keamanan siber ke dalam strategi bisnis inti,” kata pernyataan itu.

Pernyataan itu juga menyoroti sejumlah area yang perlu segera ditangani pemimpin perusahaan, di antaranya mengurangi eksposur internet yang tidak perlu, mempercepat proses tambal celah keamanan atau patching, mengganti sistem lawas yang sudah tidak didukung, memperketat kontrol akses, dan mempersiapkan diri menghadapi kebocoran data yang dinilai tak terhindarkan.

Lebih lanjut, badan-badan intelijen tersebut turut memperingatkan bahwa sistem AI sendiri berpotensi memunculkan celah keamanan baru.

“Seiring berkembangnya sistem AI, kerentanan baru dan yang sebelumnya tidak diketahui akan bermunculan, termasuk celah zero-day,” jelasnya.

Alih-alih mengandalkan satu teknologi pertahanan tunggal, organisasi disarankan menerapkan perlindungan berlapis. Aliansi intelijen ini juga menegaskan insiden siber semestinya dipandang sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, sehingga kesiapan untuk membendung dan memulihkan dampaknya kini sama pentingnya dengan upaya pencegahan.

“Kebocoran data akan terjadi. Kesiapan membantu Anda membendungnya dengan cepat dan mencegah eskalasi menjadi krisis operasional dan finansial besar,” tulis pernyataan itu.

Di sisi lain, Five Eyes juga mendesak organisasi segera mengadopsi perangkat pertahanan siber berbasis AI, sebelum pihak lawan memperoleh keunggulan lebih besar.

Menurutnya, perusahaan yang menggunakan AI dalam operasi keamanannya dapat mengidentifikasi celah lebih cepat, meningkatkan kualitas perangkat lunak, mendeteksi aktivitas mencurigakan, dan merespons insiden lebih sigap.

“Pihak lawan sudah menggunakan AI untuk bergerak lebih cepat dan efektif. Pihak bertahan harus melakukan hal yang sama,” kata badan-badan tersebut.

Pernyataan itu ditutup dengan pesan tegas bagi pemerintah maupun dunia usaha, yakni ketahanan siber bukan lagi sekadar pengaman teknis, melainkan syarat mutlak bagi keberlangsungan operasional.

“Kecepatan pesat pengembangan AI generasi terbaru berarti asumsi risiko siber bisa menjadi usang dalam hitungan bulan, bukan tahun. Kita harus bertindak sekarang,” kata Five Eyes.

(Red/005) 

Tags: Badan Intelijen SiberSerangan Siber

Related Posts

No Content Available
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penggerebekan Berujung Maut di Katingan, 1 Polisi Gugur, 2 Lainnya Hilang

Penggerebekan Berujung Maut di Katingan, 1 Polisi Gugur, 2 Lainnya Hilang

Juli 2, 2026
‎Daftar Lengkap 13 Proyek Hilirisasi Prabowo Bernilai Rp116 T

‎Daftar Lengkap 13 Proyek Hilirisasi Prabowo Bernilai Rp116 T

April 29, 2026
BMKG Tetapkan Kalteng Prioritas Kesiapsiagaan Karhutla dan Kekeringan 2026

BMKG Tetapkan Kalteng Prioritas Kesiapsiagaan Karhutla dan Kekeringan 2026

Juni 11, 2026
Kapolri Respons Mahfud soal Pengalihan Kasus Febrie Tak Sesuai KUHAP

Kapolri Respons Mahfud soal Pengalihan Kasus Febrie Tak Sesuai KUHAP

Juli 15, 2026
‎Daftar Lengkap 13 Proyek Hilirisasi Prabowo Bernilai Rp116 T

‎Daftar Lengkap 13 Proyek Hilirisasi Prabowo Bernilai Rp116 T

3
Poin-poin Penting KUHAP Baru yang Disahkan DPR di Tengah Ramai Kritik

Poin-poin Penting KUHAP Baru yang Disahkan DPR di Tengah Ramai Kritik

0
DPR Resmi Sahkan RKUHAP Jadi UU

DPR Resmi Sahkan RKUHAP Jadi UU

0
‎Eks Kapolres Bima Kota dan Adik Bandar Narkoba Ko Erwin Jadi Tersangka TPPU

‎Eks Kapolres Bima Kota dan Adik Bandar Narkoba Ko Erwin Jadi Tersangka TPPU

0
Mahfud MD : Kasus Febrie Banyak Ranjau Politis, Pengalihan Penyidikan Dinilai Produk Kompromi

Mahfud MD : Kasus Febrie Banyak Ranjau Politis, Pengalihan Penyidikan Dinilai Produk Kompromi

Juli 15, 2026
Kapolri Respons Mahfud soal Pengalihan Kasus Febrie Tak Sesuai KUHAP

Kapolri Respons Mahfud soal Pengalihan Kasus Febrie Tak Sesuai KUHAP

Juli 15, 2026
Kejagung Tegaskan Status Saksi Febrie Adriansyah Tak Gugurkan Status Tersangka dari Polri

Kejagung Tegaskan Status Saksi Febrie Adriansyah Tak Gugurkan Status Tersangka dari Polri

Juli 15, 2026
Kejagung : Febrie Adriansyah di Indonesia, Tinggal Tunggu Diperiksa

Kejagung : Febrie Adriansyah di Indonesia, Tinggal Tunggu Diperiksa

Juli 15, 2026

Politik

  • All
  • Politik

Mahfud MD : Kasus Febrie Banyak Ranjau Politis, Pengalihan Penyidikan Dinilai Produk Kompromi

Index Berita

  • Cyber Crime
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum
  • Korupsi
  • Kriminal
  • Narkoba
  • Nasional
  • Politik
  • Polri
  • Teknologi
  • TNI

Arsip

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik

© 2009 - 2026 METROBRATA UTAMA - Mengungkap Fakta, Obyektif, Tanpa Batas Media Hukum & Kriminalitas - Tabloid dan Online.

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum
  • Kriminal
    • Korupsi
    • Narkoba
    • Teroris
    • Cyber Crime
  • Polri
  • TNI
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi

© 2009 - 2026 METROBRATA UTAMA - Mengungkap Fakta, Obyektif, Tanpa Batas Media Hukum & Kriminalitas - Tabloid dan Online.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?